Agroredaksi.com-Ketimpangan informasi kesehatan dan keterbatasan ekonomi di pelosok Nusantara mendorong Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan 10 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) ke Desa Probur, Kecamatan Alor Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik GENTASKIN (Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan Ekstrem) pada Juli hingga September, mahasiswa UMM membawa misi utama memberantas stunting dan kemiskinan ekstrem guna mendongkrak kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik NTT tahun 2025, Kabupaten Alor mencatat persentase balita stunting sebesar 22,59%. Angka tersebut merepresentasikan total 2.888 jiwa balita yang mengalami stunting, dengan rincian 705 jiwa berada dalam kategori sangat pendek dan 2.184 jiwa dalam kategori pendek.
Koordinator sekaligus peserta KKN Tematik GENTASKIN Batch 2 FIKES, Tristan Gilang Antoro, menjelaskan bahwa berdasarkan pemetaan awal, masyarakat setempat hanya mengandalkan pekerjaan musiman sebagai petani kemiri dan porang. Kondisi finansial yang serba terbatas ini diperparah oleh kuatnya mitos budaya tentang asupan gizi, yang akhirnya memicu tingginya angka stunting pada balita di Desa Probur.
“Mayoritas masyarakat di sini masih sangat minim informasi medis dan lebih memercayai budaya setempat terkait asupan gizi anak, ditambah lagi faktor kemiskinan akibat penghasilan bertani yang tidak menentu menjadi pemicu utama tingginya angka stunting,” ujarnya.
Mersepons persoalan itu, tim KKN UMM bekerja sama dengan puskesmas setempat menginisiasi langkah preventif melalui pendampingan intensif di posyandu serta membagikan selebaran panduan pencegahan kurang gizi. Dedikasi ini diuji oleh medan geografis yang mengharuskan mahasiswa Kampus Putih berjalan kaki menembus perbukitan sejauh tiga kilometer demi pendataan warga. Semua kelancaran program ini tidak lepas dari dukungan penuh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) UMM yang mengurus akomodasi hingga penyesuaian jadwal ujian. Lebih jauh, ia menekankan bahwa kegiatan ini menuntut mahasiswa UMM untuk tulus menghargai budaya setempat agar bisa diterima dengan baik oleh warga desa.
“Pengabdian ini bukan sekadar tentang menjalankan program kerja, melainkan bagaimana cara mahasiswa UMM melebur, menghargai budaya lokal, dan melakukan pendekatan tulus hingga masyarakat menganggap delegasi Kampus Putih sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri,” paparnya.
Kehadiran mahasiswa UMM terbukti disambut hangat oleh warga Desa Probur. Interaksi humanis keseharian seperti mencari kayu bakar di hutan dan menumpang fasilitas sanitasi warga sukses meruntuhkan sekat perbedaan bahasa serta kebiasaan. Pengalaman lintas budaya ini menegaskan keberhasilan UMM dalam mencetak lulusan dengan kecerdasan sosial yang tangguh meski berada di lingkungan serba terbatas. Sebagai pesan penutup, Tristan mengingatkan pentingnya kesiapan mental dan fisik sebelum sungguh-sungguh terjun ke tengah masyarakat.
“Bagi rekan-rekan mahasiswa yang kelak akan meneruskan langkah pengabdian ke sini, persiapkan fisik dan mental untuk berbaur, karena kalian mungkin datang dengan keraguan, tetapi dipastikan akan pulang dengan air mata perpisahan,” pungkasnya.(Sfl/hms)

