Agroredaksi.com-KOTA BATU – Cuaca yang tidak menentu dalam beberapa pekan terakhir membuat para petani sayur di Kota Batu harus bekerja ekstra keras menjaga tanaman mereka. Perubahan suhu yang ekstrem antara panas terik dan hujan deras menyebabkan munculnya berbagai hama dan penyakit yang menyerang lahan pertanian.

Sutrisno, salah satu petani di kawasan Metro Sisir, Kota Batu, mengaku biaya perawatan tanaman meningkat hingga dua kali lipat sejak memasuki musim hujan. Kondisi cuaca yang berubah cepat dinilai memperburuk pertumbuhan sayuran seperti sawi, bawang daun, dan kol.
“Kalau siang panas sekali, lalu sore hujan deras, tanaman jadi stres. Banyak yang layu dan tumbuhnya lambat. Kami harus semprot lebih sering supaya tidak habis diserang hama,” jelas Sutrisno saat ditemui di lahannya.
Ia menyebut, pada musim hujan, hama seperti kutu trips, ulat penggerek batang, hingga penyakit busuk batang dan fusarium kerap menyerang tanaman dalam jumlah besar. Untuk mengatasinya, petani harus rutin memberikan obat-obatan seperti fungisida dan insektisida, bahkan hingga tiga kali dalam seminggu.
Kondisi ini membuat pengeluaran petani melonjak tajam. Jika pada musim normal biaya perawatan bisa ditekan, kini dana yang dikeluarkan justru membengkak karena kebutuhan pestisida dan tenaga kerja meningkat.
“Biasanya satu botol obat bisa untuk seminggu, sekarang dua hari sudah habis. Harga obat juga naik,” tambahnya.
Selain meningkatkan biaya produksi, cuaca yang tak menentu juga berdampak pada penurunan kualitas hasil panen. Daun sayur mudah rusak dan membusuk, sementara sebagian tanaman gagal tumbuh sempurna. Hal ini membuat sebagian petani khawatir terhadap turunnya hasil jual di pasaran.
Petani berharap cuaca segera stabil agar produksi sayuran dapat kembali normal. Sementara itu, Dinas Pertanian setempat diharapkan bisa memberikan pendampingan dan solusi agar para petani tidak terus merugi akibat dampak cuaca ekstrem yang diprediksi masih berlangsung hingga akhir tahun.(Sfl)

