Agroredaksi.com–MALANG – Universitas Brawijaya (UB) mendorong pemanfaatan limbah cair hasil pengolahan apel menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui program pengabdian kepada masyarakat (PkM), UB melatih pelaku UMKM dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, mengolah limbah tersebut menjadi minuman fermentasi, cuka apel, hingga biopestisida ramah lingkungan.
Pelatihan bertajuk “Pemanfaatan Limbah Pertanian (Limbah Cair Apel) sebagai Produk Minuman Fermentasi dan Biopestisida” digelar di Kantor Kecamatan Pujon, 25 Juli 2026. Kegiatan ini bekerja sama dengan UMKM Della Muda dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pujon.

Sebanyak 34 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari pelaku UMKM serta kelompok tani di wilayah Pujon. Program ini diketuai Tri Ardyati, M.Agr., Ph.D., dosen Departemen Biologi Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) UB.
Tri mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan keterampilan baru kepada masyarakat, tetapi juga mendorong pemanfaatan limbah pertanian agar memiliki nilai tambah.
“Limbah cair apel yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebenarnya masih memiliki kandungan gula, asam organik, dan nutrien yang dapat dimanfaatkan melalui proses bioproses,” ujar Tri..
Salah satu sumber limbah berasal dari UMKM Della Muda yang selama ini mengolah berbagai produk pangan berbasis pertanian lokal, termasuk carang apel. Dari proses produksi tersebut dihasilkan limbah cair berupa sari apel.
Selama ini, limbah tersebut hanya ditampung dalam tong. Jika dibuang secara langsung, limbah cair berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.
Melalui pelatihan, UB memperkenalkan teknologi sederhana untuk mengubah limbah tersebut menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Diolah Jadi Minuman Fermentasi dan Cuka Apel
Sesi pertama pelatihan diikuti ibu-ibu anggota UMKM. Materi difokuskan pada pemanfaatan limbah cair apel menjadi minuman fermentasi dan cuka apel.
Yoga Dwi Jatmiko, S.Si., M.App.Sc., Ph.D., menjelaskan proses pembuatan minuman fermentasi menggunakan sari limbah apel varietas manalagi dan rome beauty. Dalam prosesnya, sari apel ditambahkan starter kefir dan difermentasi selama dua hingga tujuh hari.
“Sari apel masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan dasar produk fermentasi. Dengan proses yang tepat, limbah tersebut dapat diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah,” jelas Yoga.
Sementara itu, Tri Ardyati memaparkan proses pembuatan cuka apel melalui dua tahapan fermentasi, yakni fermentasi alkohol yang kemudian dilanjutkan dengan fermentasi asam asetat menggunakan isolat bakteri asam asetat koleksi Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi FSTeM UB.
Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi. Sejumlah peserta menanyakan kemungkinan pemanfaatan kulit pisang dan berbagai jenis buah sebagai bahan dasar cuka, hingga teknik memperpanjang masa simpan produk minuman berbahan lidah buaya.
Petani Belajar Membuat Biopestisida
Sementara itu, sesi kedua ditujukan bagi kelompok tani dengan materi pembuatan biopestisida.
Pelatihan menghadirkan Prof. Amin Setyo Leksono, Ph.D., Prof. Dr. Suharjono, M.Si., dan Irfan Mustafa, S.Si., M.Si., Ph.D. Ketiganya memiliki keahlian di bidang pengendalian hayati, pupuk organik cair, dan mikrobiologi lingkungan.
Dalam praktiknya, biopestisida dibuat menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh. Salah satunya memanfaatkan limbah cair apel yang selama ini dikumpulkan oleh pelaku UMKM.
“Kami berharap pengetahuan dan praktik yang diberikan dapat menjadi alternatif bagi petani dalam mengembangkan pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan,” kata salah satu pemateri.
Pemanfaatan biopestisida diharapkan dapat membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan kimia sekaligus menekan biaya produksi yang terus meningkat.
Bagi petani apel Pujon, kegiatan tersebut juga menjadi peluang untuk membangkitkan kembali sektor pertanian apel yang pernah menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.
Penerapan budidaya yang lebih berkelanjutan diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas apel, menekan biaya produksi, sekaligus memperkuat daya saing apel lokal Pujon.
“Kami berharap inovasi seperti ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat diterapkan oleh petani dan UMKM sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” ujar Tri.
Program pengabdian masyarakat ini turut didukung tim asisten yang terdiri atas laboran Laboratorium Mikrobiologi, satu mahasiswa magister, dan tiga mahasiswa sarjana Departemen Biologi FSTeM UB.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari komitmen UB dalam mendukung pencapaian sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya SDG 8 terkait pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja, SDG 9 mengenai inovasi, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 13 terkait aksi perubahan iklim, serta SDG 17 melalui penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, UMKM, dan kelompok tani.
Dengan pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah, UB berharap inovasi tersebut dapat menjadi model pemanfaatan limbah agroindustri yang sederhana, berkelanjutan, sekaligus memberikan dampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Pujon. (Pj)

