Agroredaksi.com-Di Dusun Kandangan, Desa Gunung Sari, Kecamatan Bumiaji, Kota Wisata Batu, terdapat sebuah sentra kuliner tradisional yang dikenal sebagai Kampung Ladu. Menjelang bulan suci Ramadan hingga Idul Fitri, aktivitas di kampung ini meningkat pesat seiring melonjaknya permintaan kue ladu, salah satu jajanan khas berbahan dasar beras ketan.

Salah satu perajin yang masih bertahan dan konsisten menjaga cita rasa tradisional adalah Muhammad Mubin (52), yang telah menekuni usaha pembuatan ladu rumahan selama kurang lebih 30 tahun. Usaha yang ia rintis dari skala kecil ini kini mampu melayani pesanan dari berbagai kota seperti Kediri, Jombang, Surabaya, Jakarta, hingga toko oleh-oleh di wilayah Malang Raya.

Memasuki bulan Ramadan, permintaan ladu mengalami lonjakan signifikan. Dalam satu musim, total pesanan bisa mencapai antara 5 kuintal hingga 1 ton. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Mubin mengaku harus meningkatkan kapasitas produksi secara drastis.
“Kalau bulan biasa, produksi hanya secukupnya untuk pasar. Tapi kalau sudah masuk Ramadan, permintaan naik drastis. Kami harus produksi dari pagi, siang sampai malam agar pesanan terpenuhi,” ujar Mubin.Rabu(04/03/26)
Dalam sehari, Mubin mampu menghabiskan sekitar 30 kilogram beras ketan sebagai bahan dasar. Proses produksi dilakukan bersama istri, anak, serta beberapa anggota keluarga lainnya.
Proses Pembuatan Ladu Tradisional
Pembuatan ladu masih dilakukan secara tradisional dengan beberapa tahapan utama:
Penggilingan Beras Ketan
Beras ketan pilihan digiling hingga menjadi tepung halus.Pemasakan Adonan
Tepung ketan kemudian dimasak dan dicampur dengan gula cair hingga menghasilkan tekstur yang kenyal dan legit.
Adonan diuleni hingga merata dan siap dibentuk sesuai ukuran khas ladu.
Ladu yang telah dibentuk kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga kering sempurna sebelum masuk tahap pengovenan.

Salah satu tantangan utama dalam proses produksi adalah faktor cuaca. Proses pengeringan alami sangat bergantung pada panas matahari, sehingga saat cuaca tidak menentu, produksi bisa terhambat.
“Kendala utama itu cuaca, karena ladu harus benar-benar kering sebelum dioven. Kalau kurang kering, hasilnya tidak maksimal,” tambahnya.
Kampung Ladu Gunung Sari
Kampung Ladu di Desa Gunung Sari kini menjadi salah satu identitas kuliner khas Kota Batu. Deretan rumah produksi sederhana yang tersebar di dusun ini menjadi pusat pembuatan ladu dengan cita rasa autentik yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain menjadi sumber penghidupan warga, keberadaan kampung ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata kuliner. Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan ladu secara tradisional, mulai dari pengolahan bahan hingga penjemuran di halaman rumah warga.
Dengan meningkatnya permintaan setiap Ramadan, Kampung Ladu tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai sentra produksi kue khas yang diminati hingga luar daerah.Di tangan para perajin seperti Muhammad Mubin, ladu bukan sekadar camilan, melainkan warisan rasa yang terus dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi.(Sfl)

