Agroredaksi.com-Kota Batu – Momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) belum sepenuhnya membawa dampak signifikan bagi tingkat hunian hotel di Kota Batu. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu mencatat okupansi hotel pada malam pergantian tahun baru, Rabu (31/12/2025), masih berada di angka 60 persen, jauh di bawah target yang diharapkan sebesar 90 persen.

Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut menunjukkan situasi libur Nataru tahun ini cukup menantang bagi pelaku usaha perhotelan. Hingga saat ini, rata-rata okupansi harian hotel di Kota Batu masih fluktuatif di kisaran 60 hingga 70 persen.
“Situasinya memang sangat menantang. Harapan kami saat malam Natal bisa mencapai 90 persen, tetapi realisasinya masih di bawah itu, hanya sekitar 60–70 persen,” ujar Sujud, Minggu (28/12/2025).
Ia menambahkan, tren reservasi untuk malam puncak tahun baru juga belum menunjukkan lonjakan signifikan. Hingga menjelang pergantian tahun, tingkat pemesanan kamar masih berada di kisaran 60 persen.
“Untuk malam tahun baru pun masih sekitar 60 persen. Ini masih jauh dari harapan kami 90 persen. Namun kami tetap optimistis akan ada kenaikan mendekati malam pergantian tahun,” lanjutnya.
Menurut Sujud, rendahnya tingkat hunian hotel tidak terlepas dari kondisi ekonomi nasional yang berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Ia menilai terjadi pergeseran kelas ekonomi masyarakat, khususnya dari kelompok menengah ke bawah.
“Secara nasional kondisinya memang cukup berat. Daya beli masyarakat menurun. Data Gaikindo menunjukkan penjualan mobil secara tahunan turun sekitar 10 persen, sementara penjualan sepeda motor justru meningkat. Ini menunjukkan adanya pergeseran kelas ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Terkait kebijakan harga kamar, Sujud menegaskan bahwa kenaikan tarif hotel selama libur Nataru masih tergolong wajar. Kenaikan harga hanya berkisar 30 hingga 50 persen, tidak setinggi tahun-tahun sebelum pandemi yang bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat.
“Naiknya ada, tapi tidak tajam. Tidak sampai dua kali lipat,” tegasnya.
Menghadapi kondisi reservasi yang belum maksimal, pelaku usaha hotel kini mengandalkan wisatawan walk-in dan tamu Free Independent Traveler (FIT). Menurutnya, pola kedatangan mendadak masih berpotensi mendongkrak okupansi.
“Pengalaman kami, banyak tamu datang langsung. Seperti di Hotel Selecta, yang awalnya di bawah 50 persen bisa melonjak hingga 90 persen karena tamu walk-in,” ungkap Sujud.
Meski demikian, PHRI Kota Batu tetap optimistis target okupansi 90 persen pada malam tahun baru dapat tercapai, dengan rata-rata okupansi harian diharapkan berada di angka 70 persen.
Dari sisi kesiapan, PHRI memastikan seluruh hotel anggota telah menyiapkan fasilitas parkir yang memadai untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan wisatawan. Beberapa hotel bahkan bekerja sama dengan warga sekitar untuk menambah kapasitas lahan parkir.
“Rata-rata anggota kami sudah siap, termasuk dari sisi lahan parkir,” pungkas Sujud.(Sfl)

