Agroredaksi.com — BANDUNG — Di tengah ramainya wisatawan yang berkunjung ke kawasan Gunung Tangkuban Perahu, Lembang, Jawa Barat, terdapat sosok pedagang perempuan lanjut usia yang tetap gigih mencari nafkah. Ia adalah Mak Uyut, pedagang kopi, rokok, dan makanan ringan yang setiap hari berjualan di kawasan wisata tersebut.

Sosok Mak Uyut asal desa Cikambik Lembang Jawa barat ini sudah tidak asing bagi sejumlah wisatawan yang datang ke kawasan puncak Tangkuban Perahu. Meski usianya tidak lagi muda, semangatnya untuk bekerja dan mencari rezeki secara mandiri masih terus terjaga.
Mak Uyut telah dikaruniai puluhan cucu. Namun, sejak suaminya meninggal dunia, ia menjalani kehidupan seorang diri. Kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia memilih tetap berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sejak tahun 1984 silam.
Setiap hari, Mak Uyut membawa dagangan sederhana berupa kopi, rokok, serta aneka makanan ringan. Ia berharap dagangannya dibeli para wisatawan yang datang menikmati keindahan Gunung Tangkuban Perahu.
“Saya tetap jualan karena ingin mencari rezeki sendiri. Selama masih kuat, saya ingin tetap bekerja dan tidak hanya menunggu pemberian orang,” ujar Mak Uyut.
Untuk menuju kawasan wisata Tangkuban Perahu, Mak Uyut mengaku harus mengeluarkan ongkos sekitar Rp60 ribu setiap hari dari tempat tinggalnya . Biaya tersebut cukup besar bagi seorang pedagang kecil, terlebih penghasilannya tidak selalu sama setiap hari.
Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkahnya. Ia tetap berangkat dengan harapan dagangannya laku dan mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Ongkosnya sekitar Rp60 ribu setiap hari. Mudah-mudahan dagangan laku dan ada wisatawan yang membeli. Yang penting saya tetap bisa mencari rezeki,” katanya.

Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu destinasi wisata alam ikonik di Jawa Barat. Berada di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, gunung ini terkenal dengan panorama pegunungan, udara yang sejuk, serta kawah vulkanik yang menjadi daya tarik utama.

Kawasan wisata Tangkuban Perahu hampir selalu diramaikan pengunjung, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Mereka datang untuk menikmati panorama alam, melihat kawah, sekaligus merasakan suasana pegunungan yang menjadi salah satu ciri khas kawasan tersebut.
Di tengah keramaian itulah Mak Uyut menjalani rutinitasnya. Dengan lapak sederhana dan dagangan seadanya, ia terus bertahan mengais rezeki.
Kisah Mak Uyut menjadi potret kecil tentang keteguhan dan kemandirian. Usia lanjut dan kehidupan seorang diri tidak membuatnya berhenti berusaha.
Bagi Mak Uyut, selama tubuh masih kuat dan masih ada kesempatan untuk bekerja, mencari rezeki adalah bentuk rasa syukur.
Di puncak Tangkuban Perahu, ia bukan hanya menjajakan kopi, rokok, dan makanan ringan. Lebih dari itu, Mak Uyut sedang mempertahankan harapan dan semangat untuk terus menjalani kehidupan.(Sfl)

