Agroredaksi.com-Batu, Jawa Timur – Di lereng Gunung Panderman, Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, dikenal sebagai sentra penghasil susu murni yang menyuplai kebutuhan masyarakat dan koperasi susu di wilayah Malang Raya. Namun di balik kesuksesan itu, tersimpan inovasi luar biasa: warga mampu mengubah limbah kotoran sapi menjadi sumber energi bersih Bio Gas.

Bagi warga Toyomerto, limbah bukan lagi masalah, tapi peluang. Melimpahnya kotoran sapi diolah menjadi energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan sekaligus ekonomis. Inovasi ini sejalan dengan program pemerintah dalam pengembangan energi baru terbarukan dan pengurangan subsidi LPG 3 kilogram.
Dari Kandang ke Dapur: Gas Ramah Lingkungan dari Limbah Sapi

Salah satu warga, Suryani, pemilik toko kelontong yang juga peternak sapi, telah memanfaatkan biogas selama puluhan tahun.
“Sejak awal program bantuan pembuatan sumur biogas, saya langsung pakai. Sampai sekarang masih jalan dan tidak perlu beli LPG lagi,” tuturnya sambil tersenyum.
Gas hasil fermentasi limbah sapi itu disalurkan melalui pipa ke dapur rumahnya. Setiap hari, ia cukup menambahkan kotoran sapi ke sumur gas yang terhubung ke instalasi biogas terpadu.

Peternak lain, Muhdi, juga telah menggunakan biogas selama lebih dari dua dekade.
“Setiap hari saya isi sumur gas dengan kotoran sapi. Setelah tiga hari, gasnya sudah siap buat masak,” ujarnya.

Menurut Imam ,Kepala Desa Pesanggrahan, program biogas di wilayahnya sudah berjalan sejak adanya dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur Dan pemerintah kota batu ,serta Akademisi dan kini terus dikembangkan mandiri maupun terpadu oleh warga sekitar.
“Biasanya satu sumur biogas bisa melayani 10 sampai 13 kepala keluarga, tergantung kapasitasnya. Warga yang punya dua ekor sapi atau lebih, biasanya langsung bikin sendiri,” jelas Imam.
Proses pembuatan biogas dilakukan dengan sistem anaerobik (tanpa udara), mencampurkan kotoran sapi dan air ke dalam reaktor (digester). Dalam waktu sekitar tiga hari, gas metana mulai terbentuk dan siap disalurkan ke dapur warga.
“Selama pasokan kotoran sapi ada, biogas bisa terus dipakai tanpa henti,” imbuhnya.
Selain menghemat pengeluaran rumah tangga, biogas juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari sungai kini dimanfaatkan menjadi energi bersih. Sisa endapan dari proses biogas bahkan digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman.
Program ini juga mendukung kebijakan transisi energi nasional dan target pemerintah mencapai Net Zero Emission 2060, dengan mendorong masyarakat desa ikut berperan aktif dalam produksi energi bersih dari sumber lokal.
“Kami ikut membantu program pemerintah. Sekarang warga Toyomerto mandiri energi dan tidak lagi bergantung pada LPG subsidi,” kata Imam.
Dari Desa untuk Negeri

Kisah warga Dusun Toyomerto adalah contoh nyata bahwa inovasi energi tidak harus datang dari kota besar. Dengan kreativitas dan semangat gotong royong, warga mampu mengubah limbah menjadi sumber kehidupan baru.
Biogas bukan hanya menghidupkan api di dapur, tetapi juga menyalakan harapan — bahwa masa depan energi Indonesia bisa dimulai dari desa.(Sfl)

