Agroredaksi.com-Harga sayuran jenis andewi di tingkat petani mengalami penurunan drastis dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini dipicu oleh melimpahnya pasokan akibat banyaknya petani yang menanam komoditas tersebut secara bersamaan, sementara permintaan pasar cenderung menurun. Berdasarkan pantauan di sentra pertanian, harga jual andewi kini hanya berkisar Rp1.000 per kilogram, jauh di bawah harga ideal yang dibutuhkan petani untuk menutup biaya produksi.

Di Desa Sumberejo, andewi menjadi salah satu komoditas yang cukup banyak dibudidayakan. Dalam satu kali masa tanam, petani rata-rata membutuhkan biaya untuk bibit, pupuk, obat-obatan, dan perawatan yang nilainya mencapai jutaan rupiah per petak lahan. Namun, dengan harga jual saat ini, hasil panen tidak mampu menutup ongkos tersebut, bahkan untuk biaya panen dan angkut pun dinilai tidak sebanding.
Akibat kondisi pasar yang lesu, volume penjualan andewi juga ikut menurun. Pedagang pengumpul membatasi pembelian karena stok di pasar melimpah dan daya serap konsumen melemah. Situasi ini membuat sebagian petani menunda panen dan memilih membiarkan tanaman terus tumbuh untuk dijadikan bibit kembali, sebagai langkah mengurangi kerugian.
Yantoro salah satu petani andewi di Desa Sumberejo, mengatakan bahwa harga andewi saat ini nyaris tidak memberikan keuntungan sama sekali bagi petani.
“Sekarang harga andewi bisa dibilang tidak laku. Per kilonya cuma sekitar seribu rupiah. Kalau dijual satu kranjang penuh, paling hanya dapat lima puluh ribu rupiah. Padahal biaya perawatan dari awal tanam sampai panen itu besar,” ujar Yantoro
Ia menambahkan, kondisi ini sudah berlangsung selama beberapa pekan terakhir dan membuat petani berharap adanya intervensi pasar, baik melalui penyerapan hasil panen, perluasan jalur distribusi, maupun kebijakan stabilisasi harga, agar petani tidak terus merugi dan tetap bisa bertahan.(Sfl)

