Agroredaksi.com-KOTA BATU – Di tengah meningkatnya harga bunga mawar di pasaran, para petani di Kota Batu justru dihadapkan pada tantangan berat akibat perubahan cuaca yang tak menentu. Pergantian dari musim kemarau ke musim penghujan membuat biaya perawatan tanaman ikut melonjak tajam.

Perubahan suhu ekstrem, dari panas terik ke hujan deras, memicu berbagai masalah pada tanaman hias, terutama bunga mawar. Rontok bunga, bercak daun, hingga serangan kutu trips menjadi kendala utama yang dialami petani.
Manto, petani mawar asal kawasan Metro, Kelurahan Sisir, Kota Batu, menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang berubah cepat membuat tanaman tidak bisa tumbuh normal. Bunga mudah rontok dan daun cepat rusak akibat serangan hama dan jamur.
“Cuaca sekarang tidak bisa ditebak. Kadang panas sekali, tiba-tiba hujan deras. Akibatnya bunga banyak yang rontok dan daun kena bercak. Serangan kutu trips juga sering muncul,” ungkap Manto saat ditemui di lahan miliknya.
Untuk menjaga kualitas bunga tetap baik, para petani harus melakukan penyemprotan obat lebih intensif, baik fungisida maupun insektisida, dengan dosis yang lebih tinggi dari biasanya. Langkah ini dilakukan agar daun dan bunga tetap kuat serta tidak mudah rusak.
“Sekarang butuh perawatan ekstra, penyemprotan harus lebih tebal supaya tanaman kuat dan tidak busuk, ” tambahnya.
Kondisi tersebut membuat biaya perawatan meningkat signifikan. Jika sebelumnya petani hanya perlu menyemprot dua kali dalam seminggu, kini bisa mencapai tiga hingga empat kali, tergantung kondisi cuaca.
Meski harga bunga mawar di tingkat pengepul saat ini mengalami kenaikan Rp 1000 pertangkai,namun keuntungan yang diperoleh petani belum sebanding dengan biaya produksi yang semakin besar.
Para petani berharap cuaca segera stabil agar tanaman bisa tumbuh normal kembali dan hasil panen lebih optimal. Bagi petani di Kota Batu, menjaga keindahan bunga mawar di tengah ketidakpastian cuaca kini menjadi tantangan tersendiri yang menuntut ketelatenan dan kesabaran ekstra.(Sfl)

