Agroredaksi.com — Universitas Brawijaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan The 71st TEFLIN International Conference yang akan berlangsung pada Rabu 8 hingga 10 Oktober 2025. Konferensi berskala internasional ini digelar bersamaan dengan The 5th ICEL, The 5th ICOLLEC, dan The 2nd ISIALing, mengusung tema “Reimagining English Language Education in the Age of AI and Digital Transformation: Integrating Inclusive Education and Cultural Diversity.”

Melalui tema tersebut, kegiatan ini berfokus pada transformasi pendidikan bahasa Inggris di era kecerdasan buatan dan digitalisasi, sekaligus mengintegrasikan nilai inklusivitas dan keberagaman budaya dalam proses pembelajaran.

Sejumlah pakar internasional hadir sebagai pembicara utama, di antaranya Prof. Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia, Prof. Gary Barkhuizen dari University of Auckland, Selandia Baru, serta Prof. Ju Seong Lee dari Education University of Hong Kong.
Selain itu, konferensi ini juga menghadirkan pembicara pleno seperti Assoc. Prof. Hamamah dari Universitas Brawijaya, Prof. Kyra Rebeca Finardi dari Brasil, Prof. Young-Joo Jeon dari Korea Selatan, dan Assoc. Prof. Dennis Alonzo dari University of New South Wales, Australia.

Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib untuk siswa kelas 3 sekolah dasar (SD), sebagaimana diatur dalam Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.
“Penekanan pembelajaran Bahasa Inggris bukan hanya pada tata bahasa, tetapi pada kemampuan komunikasi praktis dan pemahaman informasi. Pemerintah akan memberikan waktu bagi daerah dan sekolah untuk mempersiapkan diri, dengan implementasi mulai tahun ajaran 2027” ujar Mu’ti.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Kemendikbudristek akan memberikan dukungan berupa perangkat ajar dan pelatihan guru yang akan mengajar Bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar.
“Pengenalan Bahasa Inggris sejak dini merupakan langkah progresif untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global. Langkah ini diharapkan membuka peluang pengetahuan dan membentuk generasi yang siap menghadapi dunia yang semakin terhubung,” tutupnya.
Berbagai topik menarik akan dibahas dalam konferensi ini, mulai dari penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran bahasa, digital storytelling untuk pertukaran budaya, etika pembelajaran berbasis AI, hingga pendidikan inklusif berbasis teknologi.(Sfl)

