agroredaksi.com-Jakarta – Inflasi di wilayah kerja (Wilker) Bank Indonesia (BI) Malang pada Agustus 2025 tercatat masih dalam kondisi terkendali. Secara bulanan (month-to-month/mtm), Kota Malang mengalami deflasi sebesar -0,07%, sementara Kota Probolinggo mencatat deflasi lebih dalam sebesar -0,10%. Deflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Kota Malang tercatat 2,13%, sedangkan Kota Probolinggo 2,30%. Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional tahun 2025 yakni 2,5 ± 1%.

Penjelasan tersebut di ungkapkan langsung oleh Deputi kepala kantor perwakilan BI malang Dedi Prasetyo saat memberikan materi Capacity Bulding kepada puluhan wartawan di Ballroom hotel lantai 3 Mandarin oriental Jakarta .(22/09/25).
Untuk skala provinsi, inflasi Jawa Timur Masih menurut Dedi, berada di level 2,17% (yoy), relatif sejalan dengan tren di sejumlah kabupaten/kota lainnya. Beberapa daerah juga menunjukkan deflasi bulanan, seperti Kabupaten Tulungagung (-0,22%), Kabupaten Banyuwangi (-0,19%), dan Kabupaten Sumenep((-0,11%).

Pada Agustus 2025, inflasi di Malang terutama dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan (0,48% yoy; 0,88% mtm), beras (0,17% yoy; 0,25% mtm), bawang merah (0,26% yoy; 0,18% mtm), serta minyak goreng (0,08% yoy; 0,11% mtm). Sementara di Probolinggo, andil inflasi terbesar berasal dari beras, bawang merah, dan kopi bubuk.Per Kelompok Pengeluaran
Makanan, minuman & tembakau menjadi kontributor utama inflasi, meski mencatat deflasi bulanan di beberapa komoditas.
Pakaian dan alas kaki mencatat inflasi tipis.Perumahan, air, listrik, dan gas stabil dengan kontribusi kecil terhadap inflasi.
Secara keseluruhan, perkembangan ini menunjukkan bahwa laju inflasi di Wilker BI Malang masih relatif terkendali, dengan stabilitas harga pangan menjadi fokus utama pengendalian inflasi ke depan.(Sfl)

