agroredaksi.com-Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang membuat ketersediaan air menjadi persoalan serius bagi petani yang menggarap lahan tadah hujan di kawasan perbukitan Gunung Banyak, Desa Sumberejo, Kota Batu.
Di wilayah tersebut, sebagian lahan pertanian Tidak memiliki saluran irigasi. Para petani pun hanya bisa mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Ketika hujan berhenti turun dalam waktu lama, tanaman mulai terancam kekurangan air dan petani harus mencari cara lain agar lahan tetap bisa dipertahankan.

Kondisi itu juga dirasakan Yasin. Warga desa Sumberejo, salah seorang petani cabai di kawasan perbukitan tersebut. Meski menghadapi keterbatasan air, Yasin tidak memilih membiarkan lahannya terbengkalai. Tanaman cabai yang sudah terlanjur ditanam tetap dirawat, meski kebutuhan airnya harus dipenuhi dengan cara membeli air bersih dari PDAM .
Untuk satu tangki air, Yasin harus mengeluarkan biaya sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Air tersebut kemudian ditampung dalam kolam terpal dan digunakan untuk menyiram ribuan tanaman cabai yang tumbuh di lahannya.
“Kalau musim kemarau memang sulit air, karena lahan ini tadah hujan dan tidak ada irigasi. Awalnya saya beli air per tangki sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah untuk menyiram tanaman dan saya sudah beli 6 tangki air bersih’.Ujarnya
Namun, membeli air secara terus-menerus bukanlah solusi yang mudah. Selain pasokannya tidak selalu tersedia, biaya yang harus dikeluarkan juga semakin besar. Jika kebutuhan air meningkat, pengeluaran petani pun ikut membengkak dan berpotensi mengurangi keuntungan saat panen itupun kalau harga hasil panen cabe bagus.
Setelah mempertimbangkan kondisi tersebut, Yasin akhirnya mengambil keputusan untuk membuat sumur bor di lahan pertaniannya. Ia mengeluarkan modal sekitar sepuluh juta rupiah untuk mendapatkan sumber air sendiri. Bagi Yasin, biaya tersebut memang cukup besar, tetapi dinilai lebih menguntungkan untuk kebutuhan jangka panjang.
“Kalau mengandalkan beli air terus, biayanya besar dan belum tentu mencukupi. Akhirnya saya memilih membuat sumur bor. Memang modal awalnya cukup besar, sekitar sepuluh juta rupiah, tetapi sekarang kebutuhan air untuk tanaman lebih aman.”

Keputusan itu kini mulai dirasakan manfaatnya. Saat hujan belum juga turun dan lahan di sekitarnya mulai mengering, Yasin masih memiliki sumber air yang dapat digunakan untuk menyiram tanaman cabainya. Ia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan air dari luar maupun menunggu hujan turun.
Di lahan tersebut, Yasin telah menanam sekitar empat ribu batang cabai yang terdiri dari cabai rawit dan cabai merah besar. Sebagian tanaman mulai berbuah dan diharapkan dapat memberikan hasil ketika memasuki masa panen.
Perawatan tanaman tetap dilakukan secara rutin, terutama penyiraman yang menjadi kebutuhan utama selama musim kemarau. Dengan adanya sumur bor, Yasin dapat mengatur penggunaan air sesuai kebutuhan tanaman dan menjaga agar cabai tetap tumbuh meski kondisi cuaca belum mendukung.
Bagi Yasin, ketersediaan air merupakan kunci agar lahan tadah hujan tetap produktif sepanjang musim kemarau. Ia tidak ingin lahan yang selama ini menjadi sumber penghasilan berhenti berproduksi hanya karena persoalan air.
Selain untuk tanaman cabai, sumur bor tersebut juga membuka peluang bagi Yasin untuk mengembangkan jenis tanaman lain. Ia berencana memanfaatkan sebagian lahan untuk menanam berbagai jenis sayuran yang memiliki masa panen lebih singkat.
Langkah itu diharapkan dapat menambah pendapatan sekaligus mengoptimalkan lahan yang dimilikinya. Dengan sumber air yang lebih terjamin, Yasin tidak hanya berusaha menyelamatkan tanaman cabai, tetapi juga menjaga keberlanjutan usaha pertaniannya.
Upaya membuat sumur bor menjadi cara Yasin bertahan menghadapi kemarau panjang. Lahan yang sebelumnya sangat bergantung pada hujan kini tetap bisa digarap dan menghasilkan. Meski membutuhkan modal besar di awal, keberadaan sumur bor membuat Yasin lebih tenang dalam merawat tanaman dan menghadapi ketidakpastian cuaca.(Sfl)

