Agroredaksi.com-Kota Malang – Ajang Malang Fashion Runway (MFR) yang digelar di Malang Town Square Kota Malang menjadi panggung bagi desainer asal Jakarta, Migi Rihasalay, untuk menyampaikan pesan lingkungan melalui karyanya. Mengusung tema “Mother Earth”, Migi menghadirkan koleksi busana yang tak hanya estetis, tetapi juga sarat makna tentang kepedulian terhadap alam.

Dalam peragaan busana kali ini, Migi mengangkat realita tentang kondisi bumi yang sedang “menangis” akibat ulah manusia. Melalui teaser video yang ditampilkan sebelum acara, ia menggambarkan bagaimana bumi dimulai, bagaimana manusia merusaknya, dan pada akhirnya bencana datang menghampiri.
“Mother Earth itu adalah bumi yang kita jejaki saat ini. Kita makan, kita menumpang di atasnya. Tapi kita sendiri yang tidak menjaganya,” ujar Migi.
Ia menyoroti ironi saat bencana terjadi, manusia justru “menyalahkan” alam, padahal kerusakan disebabkan oleh tangan manusia sendiri. Migi mengingatkan bahwa bencana seperti longsor dan banjir di berbagai daerah, termasuk Aceh, adalah akibat dari kelalaian kita dalam menjaga lingkungan.

Migi menjelaskan bahwa pemilihan warna pada koleksinya didasarkan pada warna-warna dasar molekul bumi—mencerminkan elemen awal sebelum adanya kehidupan. Ia juga menampilkan detail visual berupa bayang-bayang akar yang melambangkan pertumbuhan sebelum daun muncul, serta elemen gurun pasir sebagai simbol awal mula bumi.
Koleksi ini merupakan karya kelima Migi. Rencananya ada 12 model yang akan tampil, namun kali ini hanya 8 model yang memamerkan busana rancangannya.

Di tengah panggung, Migi menyampaikan ajakan tegas kepada penonton untuk menanam pohon dan melakukan penghijauan. Baginya, menjaga kelestarian bumi adalah tanggung jawab bersama.
“Jangan sampai punah hanya karena kerakusan manusia. Mari kita menanam dan menjaga bumi,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun sulit menyampaikan pesan melalui busana berbeda dengan lukisan atau lagu yang memiliki kata-kata, ia tetap berusaha mengekspresikan isi hati dan pikirannya lewat desain.
Migi mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Kota Malang. Pada tahun 2018, saat masih bersekolah, ia diterima untuk pertama kalinya berkarya di kota ini. Baginya, Malang adalah “jantung hati” yang memberinya ruang untuk berekspresi melalui seni busana.
“Malang ini adalah jantung hati Migi. Di sini saya diterima untuk berkarya dan mengekspresikan apa yang ada di kepala saya,” kenangnya.
Melalui peragaan busana di MFR, Migi berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga alam. Ia mengajak semua pihak untuk menghargai bumi, sekecil apa pun tindakan yang dilakukan, demi mencegah kerusakan lebih parah di masa depan.
Ajang Malang Fashion Runway kali ini bukan sekadar pameran mode, tetapi juga gerakan moral untuk menyelamatkan bumi melalui kain, warna, dan pesan yang dibalut dalam karya seni.(AL)

