Agroredaksi.com – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya menghadirkan inovasi penting dalam deteksi dini penyakit ginjal melalui kegiatan diskusi ilmiah NGOPI SAM (Ngobrol Pintar Sains dan Masyarakat) yang digelar Jumat (13/3/2026) di Ruang MC 1.1 FMIPA UB.
Dalam kegiatan NGOPI SAM ke-2 tersebut, Guru Besar Departemen Kimia FMIPA UB, Akhmad Sabarudin, memaparkan hasil risetnya mengenai teknologi deteksi dini gangguan ginjal yang lebih cepat, murah, dan mudah digunakan di berbagai tempat.
Menurutnya, penyakit ginjal menjadi salah satu krisis kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Ginjal merupakan organ vital yang berfungsi menyaring limbah dari darah. Ketika fungsinya menurun, seseorang dapat mengalami penyakit ginjal kronis hingga gagal ginjal yang berujung pada kematian.
“Masalah terbesar penyakit ginjal adalah banyak pasien baru mengetahui kondisinya ketika sudah berada pada tahap yang parah. Padahal jika terdeteksi lebih awal, perkembangan penyakit ini dapat diperlambat bahkan dicegah,” ujar Sabarudin.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, jumlah penderita penyakit ginjal kronis di Indonesia meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2013. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan akses masyarakat terhadap pemeriksaan laboratorium yang relatif mahal dan hanya tersedia di fasilitas kesehatan tertentu.
Berangkat dari persoalan tersebut, sejak 2018 tim peneliti yang dipimpin Sabarudin mengembangkan alat deteksi dini gangguan ginjal yang sederhana dan portabel. Alat ini bekerja dengan mengukur rasio albumin-kreatinin (ACR) dalam urin, yang menjadi indikator awal adanya kebocoran fungsi ginjal.
“Konsep alat ini sebenarnya mirip dengan alat tes kehamilan. Pengguna cukup menggunakan sampel urin sewaktu tanpa harus mengumpulkan urin selama 24 jam,” jelasnya.
Inovasi tersebut menggunakan teknologi microfluidic paper-based analytical devices (µPADs), yaitu alat diagnostik berbasis kertas yang memiliki saluran mikro untuk mengalirkan sampel urin dan bereaksi dengan reagen kimia tertentu. Hasilnya dapat dilihat dari perubahan warna atau jarak rambatan warna pada kertas.
Untuk meningkatkan akurasi, tim peneliti menambahkan partikel emas berukuran nano yang mampu menghasilkan batas warna lebih tegas sehingga memudahkan pembacaan hasil. Selain itu, alat juga dirancang menggunakan konektor tiga dimensi yang mengatur aliran sampel sehingga reaksi kimia berlangsung lebih stabil.
“Dengan desain 3D dan partikel emas, hasil pengukuran menjadi lebih presisi dan mudah dibaca,” kata Sabarudin.
Alat yang dinamakan 3D-µPADs tersebut telah diuji pada 100 sampel urin pasien di RSUD Dr. Saiful Anwar dan menunjukkan tingkat akurasi mencapai 93,48 persen, mendekati standar pemeriksaan laboratorium rumah sakit.
Ke depan, tim peneliti juga mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan atau machine learning agar hasil pemeriksaan dapat dianalisis secara otomatis melalui aplikasi digital.
“Dengan bantuan kecerdasan buatan, hasil tes bisa dibaca secara objektif tanpa bergantung pada interpretasi manusia. Ini penting agar pemeriksaan bisa dilakukan lebih luas, termasuk di fasilitas kesehatan primer atau daerah terpencil,” ungkapnya.
Melalui inovasi ini, Sabarudin berharap teknologi deteksi dini penyakit ginjal dapat lebih mudah diakses masyarakat. Selain membantu skrining kesehatan, alat tersebut juga diharapkan menjadi bagian dari transformasi layanan kesehatan yang lebih prediktif, preventif, dan presisi.
“Harapannya alat ini bisa digunakan secara luas di masyarakat sehingga penyakit ginjal dapat terdeteksi lebih cepat sebelum berkembang menjadi gagal ginjal,” pungkasnya.(Sfl)

