Agroredaksi.com-Permintaan bunga mawar potong mengalami peningkatan signifikan memasuki bulan Rajab. Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pelaku usaha bunga, salah satunya Yulia, pengepul sekaligus penjual mawar potong yang melayani pengiriman ke luar Jawa, seperti Bali, serta sejumlah kota besar lainnya.(Jum’at)09/01/25.

Setiap hari, Yulia dibantu beberapa pegawainya harus menyiapkan pesanan mawar potong dari berbagai varietas dengan jumlah mencapai ribuan tangkai. Bunga-bunga tersebut kemudian dikemas dan dikirim ke luar kota untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Namun di tengah meningkatnya permintaan, Yulia mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini cukup menghambat produksi tanaman mawar di tingkat petani. Kondisi cuaca yang tidak menentu, antara hujan dan panas, berdampak langsung pada hasil panen.
“Kalau cuaca ekstrem seperti sekarang, satu ladang baru bisa dapat sekitar enam ratus tangkai. Padahal saat kondisi normal bisa mencapai dua ribu tangkai. Banyak bunga yang rontok dan tidak tumbuh, padahal tanamannya bagus,” ungkap Yulia.
Meski menghadapi kendala tersebut, Yulia tetap berupaya menjaga ketersediaan pasokan mawar potong dengan menjalin kerja sama bersama para petani mawar di sekitar wilayah Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Untuk harga, mawar potong dijual bervariasi, mulai dari seribu rupiah hingga dua ribu lima ratus rupiah per tangkai, tergantung jenis dan warna mawar.
Yulia sendiri telah menekuni usaha penjualan mawar potong hampir selama 35 tahun. Pengalaman panjang tersebut membuatnya mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan cuaca hingga fluktuasi permintaan pasar.
Sekadar diketahui, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, memang dikenal sebagai salah satu sentra tanaman bunga mawar di Kota Batu, selain berbagai jenis tanaman hias lainnya. Bunga mawar potong dari wilayah ini banyak dimanfaatkan untuk dekorasi pernikahan, upacara adat, tabur bunga, hingga dijadikan cendera mata.
Aktivitas pengepulan dan pengemasan mawar potong ini salah satunya berlangsung di Dusun Brumbung, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, yang hingga kini tetap menjadi salah satu denyut utama perekonomian warga berbasis florikultura.(Pwrt)

